Langkah Tepat Menghilangkan Bau Mulut

Cara Menghilangkan Bau Mulut
Sebelum melanjutkan pembahasan tentang menghilangkan bau mulut, ada baiknya sobat blogger menyimak kembali postingan terdahulu tentang penyebab bau mulut ini.
Setelah memahami sebab sebab munculnya bau mulut, maka secara otomatis kita sudah bisa membayangkan langkah apa yang paling tepat dilakukan untuk menghilangkan bau mulut tersebut.
Secara garis besar, langkah yang dapat diambil antara lain:
- melihat pola hidup, terutama dalam hal menjaga kebersihan gigi dan mulut. Terkadang kita merasa sudah menyikat gigi sesering mungkin, tapi apakah sudah tepat caranya? Untuk itu pastikan cara menyikat gigi sudah tepat, bila perlu gunakan obat kumur setelah menyikat gigi. Selain membersihkan gigi, ingat juga bahwa sisa makanan dapat terakumulasi di lidah, terutama pada pangkalnya.
- hindari makanan dan minuman yang berbau tajam, dan bila terpaksa mengkonsumsinya usahakan untuk segera melakukan pembersihan.
- jangan biarkan mulut dalam keadaan kering, air ludah (saliva) yang encer turut berperan dalam self cleansing. Mengunyah permen karet dapat merangsang keluarnya ludah, hendaknya memilih permen karet non-gula, bisa juga dengan mengkonsumsi buah yang banyak mengandung air. Minum air putih secukupnya, dan rajin berkumur apabila anda mengalami gangguan mulut kering, lalu segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.
- periksakan atau konsultasikan dengan dokter gigi anda mengenai masalah bau mulut tersebut, Dokter gigi anda akan mencari tahu penyebab utamanya. Bila tidak ditemukan kelainan pada gigi dan mulut, maka akan dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam apakah melibatkan penyakit sistemik.

Sumber gambar: dhaasmalia.blogspot.com


Read More »

Cabut Gigi Menyebabkan Buta: Mitos!

Cabut Gigi
Pernahkah sobat blogger mendengar informasi kalau cabut gigi menyebabkan buta? Informasi ini sudah lama kita dengar, bahkan di kalangan orang berpendidikan pun beredar informasi ini. Tidak dapat dipungkiri kalau mencabut gigi adalah suatu proses beresiko, bahkan di dalam dunia kedokteran gigi terdapat dokter gigi yang secara tegas menyatakan tidak akan menangani kasus pencabutan gigi dengan berbagai alasan.
Resiko dalam proses pencabutan gigi menyangkut keseluruhan proses, dimulai dari pemberian anestesi, proses pencabutan gigi (ekstraksi), sampai proses penyebuhan pasca tindakan.
Dilihat dari sisi anatomi, tidak ada keterkaitan langsung antara saraf mata dan gigi. Kedua saraf keluar dari otak dalam keadaan terpisah melewati jalur yang berbeda pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa pencabutan gigi itu sendiri tidak terkait langsung dengan komplikasi yang melibatkan organ mata. Kemungkinan yang dapat terjadi adalah adanya infeksi sebelum atau sesudah pencabutan gigi, dimana infeksi  menyebar sampai ke organ mata. Perlu ditekankan disini bahwa tidak hanya pencabutan gigi yang memiliki resiko seperti ini, setiap tindakan operatif pada daerah kepala memiliki resiko serupa.
Untuk mengantisipasi resiko infeksi, sebelum tindakan operatif apapun, termasuk daerah kepala, khususnya pencabutan gigi, dilakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada infeksi dan peradangan disekitar area tindakan. Bila terdapat infeksi dan peradangan maka sebelumnya harus ditangani dengan pemberian obat. Setelah tindakan cabut gigi, diberikan juga obat sebagai antisipasi munculnya infeksi, mengingat infeksi sangat mudah menyebar melalui pembuluh darah yang terbuka.
Demikian informasi singkat mengenai mitos cabut gigi menyebabkan buta, semoga masyarakat dapat memahami informasi yang telah diberikan sehingga tidak memunculkan ketakutan tak beralasan terhadap proses cabut gigi ini.

Sumber gambar: www.medicalook.com 
Read More »

Memakai Kawat Gigi: Kebutuhan atau Keinginan?

Memakai Kawat Gigi
Sobat blogger sudah pasti tidak asing dengan kawat gigi, atau bahkan mungkin sobat sendiri sedang memakai kawat gigi?
Pada saat sekarang ini sangat lazim ditemui di sekitar kita, terutama muda mudi yang memakai kawat gigi. Sejak awal penemuannya sampai sekarang, pemakaian kawat gigi bertujuan untuk mengembalikan fungsi fisiologis dan estetika dari gigi itu sendiri. Fungsi fisiologis gigi meliputi beberapa hal, antara lain pengunyahan, fonasi (pengucapan), dan menjaga hubungan rahang atas dan bawah (terutama menyangkut posisi sendi rahang).
Fungsi estetika tentu saja berkaitan dengan penampilan, gigi yang rapi akan mendatangkan kepercayaan diri bagi yang memilikinya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini banyak pemakai kawat gigi tidak memahami fungsi kawat gigi. Kebanyakan dari mereka justru menonjolkan kawat gigi sebagai hal yang mendatangkan estetika itu sendiri. Ironisnya, banyak dari mereka memiliki susunan gigi yang baik dan sebenarnya tidak memerlukan perawatan. Bahkan dalam beberapa kasus ada diantara mereka yang mempertaruhkan kesehatan gigi mereka dengan menggunakan jasa pemasangan kawat gigi yang tidak resmi, sehingga banyak bermunculan kasus kesehatan gigi dan mulut diakibatkan pemakaian kawat gigi yang tidak sesuai.
Konsekuensi dari pemakaian kawat gigi adalah sulitnya melakukan pembersihan seperti biasa. Timbulnya karang gigi dan bau mulut pada pemakai kawat gigi dapat terjadi. Penjelasan mengenai tata cara pembersihan, alat dan bahan yang diperlukan, serta resiko yang dapat timbul bila daerah gigi dan mulut tidak higienis hanya bisa diperoleh dari seorang dokter gigi yang memang mengerti akan hal itu. Penanganan akibat masalah yang timbul akibat pemakaian kawat gigi juga hanya dapat dilakukan seorang profesional.
Sebelum memutuskan untuk menggunakan kawat gigi, ada baiknya dipertimbangkan lagi dengan matang, apakah hal tersebut memang diperlukan atau hanya keinginan semata. Jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter gigi, terutama dengan spesialis orthodonsi, dan biarkan para profesional yang memutuskan.

Sumber gambar: media.dinomarket.com
Read More »